Sekelumit Reformasi Protestan

REFORMASI PROTESTAN

( sumber : The Story of Christianity, hal 132-135)

Saat terjadinya Reformasi Protestan, Jerman terpecah dalam 300 negara bagian yang berdiri sendiri. Semua Negara bagian tersebut berada di bawah Imperium Romawi Suci walaupun hubungannya sangat longgar. Meski Paus tampak seolah olah mengendalikan Gereja Jerman, sifat nasionalis yang kuat dalam diri orang Jerman dan ketidaksukaan mereka terhadap otoritas kepausan merupakan gerbang bagi individu yang berpemikiran reformis untuk mengambilalih otoritas gerejawi di seluruh wilayah Jerman.

INDULGENSI

Katalisator penyebab terjadinya pemisahan diri dari Roma adalah adanya perdagangan indulgensi oleh Gereja. Teologi yang melatarbelakangi indulgensi adalah bahwa Gereja memiliki “harta kebaikan” yang dibangun oleh para rasul dan para kudus, yang sejalan dengan kehidupan Kristus yang tanpa dosa. Dengan mendapat rahmat kebaikan tersebut, anggota Gereja dapat mengurangi atau membebaskan diri dari siksaan api penyuian dan bisa langsung masuk dalam Kerajaan Surga. Indulgensi atau pengampunan dosa dapat dibeli dengan menyumbang uang atau, sebagaimana dipraktekkan pada abad sebelumnya, dengan cara ikut Perang Salib. Menjelang abad XVI, indulgensi diperjualbelikan. Di Jerman, seorang Dominikan Johann Tetzel menjual indulgensi dengan janji bahwa “ ketika koin yang disumbangkan dalam peti simpanan Gereja bergemerincing, jiwa pun terbebaskan dari Api Penyucian!”

Orang yang menyumbangkan uang diberi penjelasan bahwa sumbangan tersebut akan dipakai memugar kembali Gereja Basilika St. Petrus, Roma, tetapi pada kenyataannya tidak semuanya. Sisanya digunakan untuk melunasi utang sejumlah individu seperti Pangeran Albert dari Brandenburg. Albert telah memberi bayaran dan suap yang besar untuk menjadi Uskup Agung Mainz. Demi mendapatkan dana tersebut, ia meminjam uang dalam jumlah besar dari para bankir Fugger, dengan perjanjian bahwa ia akan memerintahkan Tetzel untuk menjual indulgensi di wilayah kekuasaannya. Ketika seorang imam paroki sekaligus professor bernama Martin Luther (1483-1546) – yang telah berkhotbah untuk menolak keras praktek jual beli indulgensi – mengetahui kesepakatan tertutup antara Tetzel dan Albert, mengambil keputusan mempublikasikan pandangannya menjadi debat public tanggal 31 Oktober 1517. Luther mengumumkan Sembilan Puluh Lima Tesis di pintu gereja istana di Wittenburg dan, dalam proses selanjutnya mengirim petir ke pusat otoritas kepausan dan menyalakan api reformasi.

KARYA LUTHER

Dengan karya terjemahannya sebagai seorang professor, Luther berhasil mengembangkan teologi sola scriptura, – bahwa Alkitab merupakan otoritas final bagi segenap umat kristiani dan sola fides – bahwa keselamatan hanya terjadi karena iman semata, bukan karena kebaikan. Dia juga berpendapat bahwa Alkitab harus dimiliki oleh semua orang, tidak hanya terbatas dalam lingkungan para klerus dan sarjana, dan setiap orang kristiani merupakan anggota kerasulan kaum beriman. Saat semua pemikiran tersebut berjalan berlawanan dengan tradisi Gereja selama lebih dari seribu tahun, ia menganggap apa yang dilakukan tidak lebih dari mengarahkan kembali kapal yang terbelok dari haluan yang sebenarnya. Pemikiran kritis ini sebenarnya tidak pernah keluar dari pagar dunia akademis, namun karena Luther juga seorang pastor paroki, yang mengalami langsung kegelisahan spiritual dan politis masa itu, ia pun mempersoalkan secara terbuka semua penyalahgunaan, kesalahpahaman, dan defisiensi yang terjadi dalam tubuh Gereja. Perubahan tersebut terjadi tidak lama sebelum pemikiran-pemikirannya mengakar serta kemasyhurannya menyebar di seluruh dan di luar Jerman.

Pada tahun 1518, inkusitor kepausan, Silvester Prieras, meminta luther pergi ke Roma dan menjawab tuduhan-tuduhan bidah atas dirinya. Luther menolak permintaan tersebut dengan alasan hanya Alkitab yang sempurna, bukan paus, dan ia hanya bertanggung jawab kepada kekuasaan Kristus semata. Karena khawatir akan bahaya yang mungkin menimpa hidup Luther, Pangeran Frederick dari Saxony memindahkan tempat peradilan tersebut ke Augsburg. Di sana, Luther dihadapkan dengan Kardinal Cajetan.

Luther menolak untuk menarik kembali semua pernyataannya dan, dalam upaya menentang otoritas kepausan, ia meminta pembentukan satu Konsili Umum untuk memutuskan persoalan tersebut. Paus Leo X tidak ingin menyingkirkan Frederick, dengan harapan bahwa pangeran tersebut, yang tidak memiliki kekuatan politis dalam kaitan kandidat-kandidat lain, akan menjadi kaisar baru Imperium Suci Romawi setelah kematian Maximilianus tahun 1519. Namun Luther tidak bersedia untuk berkompromi dan konfrontasi pun meletus antara para pendukungnya dengan orang-orang yang membela otoritas kepausan. Meskipun Luther tidak pernah bersiap-siap menghadapi kemungkinan untuk terpisah dengan Roma, semua gagasan yang disebarluaskan melalui risalah berserinya, dengan cepat membangkitkan semangat nasionalisme Jerman. Paus Leo melawan risalah-risalah Luther dengan bulla yang berjudul Exsurge Domine. Dengan menyebut Luther sebagai “seekor beruang liar perusak taman anggur Tuhan”, Paus Leo mengutuknya dan menyerukan agar ia menyerahkan diri dalam jangka waktu 60 hari atau akan diekskomunikasi. Pada tanggal 10 Deseber 1520, Luther membakar bulla Paus tersebut di depan warga Wittenberg. Mendengar berita itu, Paus pun melaksanakan ancaman terakhir, yaitu mengekskomunikasi Luther.

Awalnya, Luther sama sekali tidak bermaksud mendirikan Gereja Baru. Dia hanya berharap bahwa dengan kembali kepada Injil, Gereja Katolik akan mereformasi diri. Ketika harapan tersebut tidak terwujud, ia pun menolak berbagai doktrin – misalnya penghormatan terhadap santo-santa, doktrin indulgensi, dan sakramen sakamen – karena tidak tertera secara eksplisit dalam Kitab Suci. Gereja-gereja Lutheran menjadi Gereja-gereja nasional, yang memiliki perbedaan antara satu Negara bagian dan yang lain. Walaupun dinyatakan tidak sah, Luther kembali ke Wittenberg. Hukuman mati atas dirinya tidak pernah dilakukan karena kaisar disibukkan dengan masalah-masalah lain. Luther hidup dalam damai selama 25 tahun kemudian.

REVOLUSI PARA PETANI

Reformasi Jerman berkembang dengan disertai pertumpahan darah. Masyarakat tani telah lama menderita karena penindasan oleh para penguasa. Banyak masyarakat tani menganut pemikiran Luther sebagai dasar kebenaran dalam mendukung kedahagaan mereka untuk hidup bebas dari perhambaan. Mereka menuntut hak untuk memilih pendeta sendiri secara independen dan menuntut para penguasa membayar lembur yang mereka lakukan. Mereka juga menuntut hak-hak kepemilikan atas lahan yang digarap.

Meskipun awalnya Luther mendukung gerakan kaum tani tersebut, namun ia berbalik menentang mereka ketika salah satu pemimpin mereka, Thomas Muntzer, tokoh reformasi radikal, dengan kejam membunuh penduduk Weinsberg serta membakar berbagai gereja dan kastil. Dalam risalah yang mengungkapkan ketidaksenangannya, Luther member izin kepada para pangeran Jerman untuk menggunakan berbagai cara guna meredam revolusi tersebut dengan seruan agar mereka “menyucikan diri dari pertumpahan darah”. Para pangeran pun segera menyatukan kekuatan tentara dan membunuh sekitar 100.000 petani pada tahun 1524. Namun reaksi Luther terhadap tindakan kaum bangsawan tersebut malah sebaliknya : ia mengutuk mereka sebagai “iblis”. Sayang, kehancuran dan pembunuhan telah usai. Konsekuensinya, Luther kehilangan kepercayaan orang-orang yang sejak awal berusaha membantu reformasi-reformasi yang ia lakukan.

Sebagian besar pangeran Jerman masih menaruh simpati kepada Luther. Pada tahun 1526, mereka diberi kebebasan memilih Katolisisme atau Protestantisme sesuai keinginan mereka. Tahun 1530 pada pertemuan Augsburg, Melanchthon diberi tugas menyusun draft Augsburg Confession, yaitu pernyataan resmi Lutheranisme. Ketidaksepakatan antara tokoh-tokoh reformasi tentang isi dokumen tersebut berlanjut sampai bertahun-tahun. Tidak lama kemudian perang berkecamuk antara orang-orang protestan dan Katolik di Jerman. Perang tersebut berlanjut hingga tahun 1555, ketika pakta perdamaian ditandatangani di Augsburg. Temanya adalah tentang asas “ yang menjadi agama penguasa menjadi agama warganya”. Dengan kata lain,setiap pangeran di Jerman memiliki hak untuk memilih, apakah wilayah kekuasaannya menganut Katolik atau Protestan. Dengan adanya Pakta Perdamaian Augsburg, Lutheranisme akhirnya mendapat status resmi di Imperium Suci Roma, Sembilan tahun setelah Luther wafat.

Agama Kristen Lutheran segera menyebar ke Negara-negara lain. Hans Tausen, seorang professor bidang agama di Copenhagen, membawa agama Kristen Lutheran ke Denmark dan berkembang di Norwegia dan Swedia sebagai bagian dari reformasi politik yang terjadi di Negara-negara tersebut pada abad XVI dan XVII. Terinspirasi oleh tulisan-tulisan Luther, para tokoh reformis Bohemian, yaitu kaum Hussit, melakukan reformasi di Polandia. Di belahan lain Eropa Tengah, orang-orang Lutheran dan Calvinis bersatu melawan otoritas-otoritas Katolik. Lutheran juga menjadi sumber inspirasi bagi tokoh-tokoh reformasi di Inggris, Italia, dan Spanyol.

GEREJA REFORMIS BELANDA

Selama masa awal dekade Reformasi, negeri Belanda menjadi tempat subur bagi lahir dan berkembangnya gerakan-gerakan Protestan. Bersama sekte-sekte yang kurang terkenal, daerah yang saat ini merupakan Negara Belgia dan Belanda, memeluk Lutheranisme, Brethern of Common Life, Waldesianisme, dan Gereja Mennonit. Perkembangan ini sebagian karena bangsa belanda memiliki tingkat kebebasan keagamaan cukup baik dibawah kepemimpinan Kaisar Charles V, walaupun negeri tersebut di bawah kendali kekuasaan Spanyol. Tetapi ketika putra Kaisar Charles V, Philip II, mengambil alih takhta Spanyol tersebut tahun 1556, bangsa Belanda menjadi tempat yang diselubungi horor inkusisi Spanyol. Peperangan meletus dan William Orange, yang sebelumnya beragama katolik, melawan Spanyol. William terbunuh tahun 1584, namun peperangan tersebut berlanjut hingga tahun 1648, saat Belanda berhasil mencapai kebebasan dan diakui sebagai provinsi-provinsi serikat (United Provinces). Selama masa itu Gereja Reformasi Belanda dibentuk dan bangkit secara mengagumkan. Gereja itu terkenal karena toleransinya terhadap kelompok agama lain termasuk Katolik, dan karena itu, Gereja tersebut dimasukkan dalam bentuk pemerintahan Presbiterian dan menerima ajaran Belgia atau Walloon. Pengakuan iman 1516 dan Katekismus Heidelberg tahun 1563. Pengakuan iman Protestan ini melahirkan consensus Gereja Reformasi tentang beberapa masalah mengenai sakramen, otoritas, Kitab Suci, peran Gereja sebagai lembaga tunggal yang memutuskan disiplin kristiani, pentingnya karya amal, dan takdir tentang jiwa manusia.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++



Iklan

About this entry